Figoelgdar: Ketika Rasa yang Hampir Pupus Bangkit Kembali

Di sebuah sudut pasar tradisional di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, seorang nenek berusia 78 tahun duduk tenang di atas tikar pandan. Di depannya, terhampar piring kecil berisi makanan berwarna kecoklatan, beraroma rempah hangat, dan tekstur yang sulit digambarkan agak kenyal, tapi lembut di gigitan pertama. Itu bukan tempe, bukan pula tape. Itu Figoelgdar.

Bagi kebanyakan orang, nama itu mungkin terdengar asing bahkan salah baca. Tapi bagi segelintir warga di pesisir selatan Jawa, Figoelgdar adalah kenangan masa kecil, rasa yang selalu ada di hari raya kecil, dan simbol ketahanan kuliner lokal di tengah gempuran makanan instan.

Figoelgdar: Lebih dari Sekadar Makanan

Figoelgdar kadang dieja Figoel G’dar atau Figoel Godar adalah makanan tradisional berbahan dasar singkong, kelapa parut, dan gula merah, dibungkus daun pisang lalu dikukus. Namun, yang membedakannya dari kolak atau nagasari adalah proses fermentasinya yang unik. Singkong dicincang halus, lalu direndam selama 1–2 hari hingga mengeluarkan aroma asam ringan. Baru kemudian dicampur dengan kelapa parut yang telah disangrai dan gula jawa cair.

“Dulu, kalau musim paceklik, Figoelgdar jadi penyelamat,” kata Mbah Surti, sang penjual di pasar itu, sambil menyodorkan sepotong kecil ke tangan saya. “Tahan lama, nggak cepat basi, dan bikin kenyang.”

Mengapa Hampir Punah?

Ironisnya, justru karena ketahanannya itulah Figoelgdar mulai dilupakan. Di era serba cepat, proses fermentasi dua hari dianggap terlalu lama. Anak muda lebih memilih camilan kemasan yang bisa dibeli dengan satu klik. Warung-warung tradisional pun mulai menggantinya dengan makanan yang lebih “laku” secara komersial.

“Anakku bilang, ‘Bu, bikin Figoelgdar nggak laku. Mending goreng pisang’,” ujar Mbah Surti sambil tersenyum getir. “Tapi aku tetap bikin, biar ada yang ingat.”

Menurut catatan dari Komunitas Warisan Kuliner Nusantara (KWK Nusantara), Figoelgdar hanya masih ditemukan di tiga wilayah: Pacitan, sebagian Gunungkidul, dan beberapa desa di Banyuwangi. Di luar daerah itu, praktis sudah hilang.

Jejak Rasa yang Tak Bisa Diabaikan

Namun, dalam lima tahun terakhir, terjadi semacam “renaisans” kecil terhadap makanan-makanan langka seperti Figoelgdar. Inisiatif datang dari berbagai pihak: chef lokal yang ingin mengangkat identitas rasa daerah, komunitas kuliner, hingga anak muda yang mulai riset resep nenek moyang lewat media sosial.

Salah satunya adalah Rendra, seorang content creator asal Surabaya yang viral setelah membuat video “Mencari Figoelgdar: Perjalanan ke Kampung Terakhir yang Masih Melestarikannya.” Video itu bukan hanya menarik jutaan penonton, tapi juga membuka jalan bagi kolaborasi antara pelaku UMKM dan platform digital.

“Awalnya aku kira itu typo di buku resep nenek,” cerita Rendra. “Tapi pas nyobain, rasanya… kayak pulang ke masa kecil yang bahkan belum aku alami. Unik, asam manis gurih, dan hangat di perut.”

Apa yang Membuat Figoelgdar Spesial?

Beberapa alasan mengapa Figoelgdar layak diperhatikan:

  • Proses alami tanpa pengawet: Fermentasi tradisional menghasilkan rasa asam alami yang menyehatkan pencernaan.
  • Bahan lokal 100%: Singkong, kelapa, gula merah semua mudah ditemukan di pekarangan.
  • Nilai budaya tinggi: Sering dihidangkan saat selamatan kecil atau acara adat desa.
  • Ramah lingkungan: Dibungkus daun pisang, bukan plastik.

Tapi yang paling penting: Figoelgdar adalah cerminan slow food versi Nusantara—makanan yang diajari oleh waktu, bukan dipaksakan oleh produktivitas.

Langkah Kecil untuk Melestarikan

Untungnya, semangat pelestarian mulai menyebar. Di Pacitan, sekelompok ibu-ibu PKK kini mengadakan “Kelas Figoelgdar” setiap bulan, mengajarkan teknik fermentasi dan pembungkusan tradisional kepada remaja putri. Di Yogyakarta, sebuah kafe kecil menyajikannya sebagai daily special setiap Kamis dengan twist modern berupa saus vanila buah naga.

Bahkan, Universitas Gadjah Mada sempat melakukan riset kecil tentang potensi Figoelgdar sebagai pangan fungsional berbasis probiotik. Hasilnya mengejutkan: kandungan mikroflora dari fermentasinya hampir setara dengan kefir tradisional.

“Kita nggak perlu menciptakan sesuatu yang baru untuk jadi inovatif,” kata Dr. Lina, peneliti pangan dari UGM. “Kadang, jawabannya ada di dapur nenek kita—tinggal kita mau menggali atau tidak.”

Mencicipi Figoelgdar: Pengalaman yang Menggugah Ingatan

Saya menutup kunjungan itu dengan duduk di warung pinggir sawah, menikmati Figoelgdar hangat sambil menatap langit senja. Rasanya sederhana, tapi justru di situlah letak kekuatannya. Tidak ada rasa yang berlebihan. Semuanya seimbang antara manis gula jawa, gurih kelapa sangrai, dan asam ringan dari fermentasi.

Di tengah gigitan kedua, saya tiba-tiba teringat masa kecil: duduk di pangkuan nenek, menunggu makanan yang “perlu waktu” matang. Di era sekarang, kita justru kehilangan kesabaran itu dan juga rasa yang lahir darinya.

Figoelgdar mungkin tak akan jadi tren viral seperti dalgona coffee atau bir pletok. Tapi justru karena itulah ia berharga. Ia hadir bukan untuk pamer di Instagram, tapi untuk mengingatkan: bahwa makanan terbaik seringkali lahir dari kesederhanaan, kesabaran, dan cinta yang tak pernah minta dipuji.

Penutup
Melestarikan Figoelgdar bukan hanya soal menyelamatkan resep tapi menyelamatkan cara pandang. Bahwa makanan adalah warisan, bukan sekadar komoditas. Dan kadang, yang paling berharga justru yang hampir kita lupakan.